Setahun kepergian mama..

Aku ini bukan anak rumahan.

Sejak SMP aku sudah sering pergi lomba dan nginap. Kuliah, aku pilih ngekost. Lulus, aku merantau. Tapi satu hal yang nggak pernah berubah—Mama selalu percaya.

Mama selalu jadi orang pertama yang yakin aku bisa, bahkan ketika aku belum yakin sama diriku sendiri.
Doanya nggak pernah putus, dukungannya nggak pernah pakai syarat.

Waktu Bapak meninggal tahun 2011—aku masih jadi mahasiswi. Dan sejak itu, Mama rangkap semuanya: jadi ibu, jadi ayah, jadi rumah, jadi tempat pulang.
Tapi Mama nggak pernah kelihatan lelah. Wajahnya tetap tenang.
Padahal sekarang aku tahu, pasti banyak hal yang beliau pendam sendiri.

Sampai aku menikah pun, Mama tetap jadi rumah.
Walau beliau selalu bilang, “Kalau udah nikah, kamu minta izin ke suamimu, bukan ke Mama lagi.”
Tapi Mama tetap jadi tempatku mengadu.

Tiga bulan sebelum aku menikah, Mama harus operasi besar. Aku sempat mau tunda pernikahan, tapi Mama bilang:
"Jangan. Lanjutin aja hari bahagiamu, jangan tunda hanya karena Mama sakit."

Dan aku menikah.
Di tahun pertama pernikahanku, Mama tetap rayakan. Walau cuma lewat video call, tetap ada kado, tetap ada doa.
Padahal aku nggak pernah minta. Tapi Mama selalu punya cara buat bikin aku ngerasa dicintai. Ya, semua aku dirayakan.

Berjalan ke 2 tahun pernikahanku, Mama divonis harus menjalani kemoterapi.
Dan bersamaan dengan itu… aku tahu kalau aku sedang hamil 1 bulan.

Kondisiku saat itu drop parah. Morning sickness, vertigo, asma kumat. Ditambah lagi secara mendadak aku harus berhenti dari kebiasaan merokokku yang sudah hampir 20 tahun, separuh dari umurku sendiri. Ya, aku mulai merokok diam-diam ketika aku masih kecil.

Aku menjalani 2 bulan pertama kehamilanku di Ibu Kota. Meski ada suami yang selalu siap siaga 24jam dan tidak patriarki, namun aku tetap saja merasa ada yang kurang.
Hatiku nggak tenang kalau jauh dari Mama.
Februari 2025, Aku kekeuh pulang ke semarang walaupun tidak diijinkan oleh dokter kandunganku.

Dan begitu sampai di rumah, ajaibnya semua keluhanku hilang.
Mungkin karena aku tenang dekat Mama. Mungkin karena Dipa yang masih di dalam rahim tahu: aku butuh stabil, aku butuh rumah, aku butuh mama.

Aku nemenin Mama 24/7.
Bolak-balik rawat inap, kemoterapi, dan hampir kenal sama semua perawat dan dokter disana.
Dan walau tubuhnya lemah, Mama tetap bilang:
"Kamu jangan capek-capek lho dek, ga usak khawatir sama Mama. Jaga kandunganmu itu yang utama, ya."

Sampai dengan 25 Juni, hari ulang tahun Mama. Aku, suami, kakak, dan adek, semua berkumpul di kamar rawat inap mama. Masih teringat jelas, mama tidur dengan memakai bantuan oksigen, masih tersenyum tertawa, masih mengelus kami satu persatu, masih bisa diajak berkomunikasi.

Namun, tepat di siang harinya, di pintu kamar rawat inap mama, hari itu dokter sampaikan kabar berat. Kami diinfokan kondisi mama terupdate pada hari itu. Kami diberikan pilihan. Menandatangani persetujuan adanya tindakan gawat yang mana harus ke ICU, atau tidak. 

Egoisnya aku, aku akan mengupayakan semua yang bisa aku lakukan agar mama tetap ada bersama kami. Namun, keputusan bersama kami tidak seperti itu. Mama sudah terlihat lelah. Selama hampir 3 tahun mama melawan penyakitnya tanpa banyak kerabat yang tahu. Mama bolak balik ke RS hampir setiap hari untuk melakukan radiasi, mama tetap menjalankan rutinitas pensiunannya untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan teman-temannya meski harus bolak balik keluar kota, mama masih tetap mengikuti kajian/pengajian hampir tiap sore hari, mama juga masih aktif menjadi sosok yang dibutuhkan dilingkungan tempat kami tinggal, belum lagi mama juga tetap menjadi 'Ibu' untuk kami anak-anaknya, semua dilakukan secara bersamaan selama hampir 3 tahun ini, setiap hari, dan tidak ada sama sekali mengeluh, justru malah selalu memberikan semangat motivasi dan jadi garda terdepan untuk kami. Namun, hari itu, aku melihat mama yang sudah lelah namun bahagia.

Dan 26 Juni, Mama pergi. Tugasnya menjadi seorang Ibu telah selesai di dunia ini.

Aku ada di sana.
Aku yang bantu Mama ucapkan syahadat.
Aku yang genggam tangannya.
Aku yang elus pipinya dan rambutnya pelan-pelan.

Kupikir aku anak yang kuat. Tapi ternyata, aku yang paling nggak siap.

Aku kehilangan duniaku.
Tapi di saat yang sama, Allah sedang menitipkan aku dunia baru: Anak yang sedang tumbuh dalam perutku.

Aku kehilangan dunia yang membesarkanku, tapi aku juga sedang disiapkan untuk jadi dunia bagi anakku sendiri.

Dan Mama pergi… dengan senyum yang indah sekali.
Tenang. Damai. Cantik. Bersih. Dan tanpa kesakitan.

Tapi yang aneh... aku tidak menangis.
Bukan karena aku kuat. Bukan karena tidak sayang.
Entah itu karena aku sudah ikhlas, atau karena aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan rasa kehilangan yang sebesar itu.

Semua kenangan datang seperti potongan film cepat. Dari kecil, remaja, dewasa, sampai momen terakhir.

Saat itu rumah dipenuhi pelukan.

Banyak yang datang, banyak yang syok.
Nggak sedikit yang menangis sambil memeluk aku erat, sambil bilang, “Aku nggak nyangka... ternyata Mama sakit selama ini.”
Tapi justru aku... yang malah nenangin mereka.

Padahal aku sedang kehilangan seluruh duniaku.

Banyak yang bilang, “Kiky yang kuat ya..”
Padahal aku nggak tahu apa itu arti kata kuat. Aku cuma... diam.
Karena aku lihat Mama pergi dengan senyum, dan aku nggak punya alasan untuk menahan beliau dengan tangis.

Itu cukup membuatku legowo.
Kalau Mama bisa pergi seindah itu, masa aku tega menahan kepergiannya dengan tangis yang berat?

Dan saat itu, semua orang khawatir padaku.
Kesehatanku. Kandunganku.
Tapi... Ajaibnya, aku baik-baik saja.
Aku merasa... janin dalam perutku tahu bahwa aku sedang kehilangan duniaku.
Tapi dia tetap sehat. Tetap bertahan. Tetap tumbuh. Tetap bergerak lembut seolah ingin bilang, “Aku di sini, Mami.”

Mungkin itulah bentuk cinta yang paling dalam.

Ketika seseorang pergi, dan kamu hancur, tapi tetap tenang.
Karena kamu tahu... dia sudah selesai berjuang. Dan dia pergi dalam damai.

Hari itu, aku kehilangan dunia yang membesarkanku.
Tapi Allah SWT sedang mempersiapkanku untuk menjadi dunia bagi Dipa.

Sekarang, aku seorang ibu.
Dan semua yang Mama ajarkan lewat tindakan, kelembutan, dan doa—itu yang coba aku wariskan ke Dipa.
Aku tahu aku tidak akan pernah bisa menyamai Mama.
Tapi aku akan terus bawa cintanya, lewat caraku merawat anakku.
Lewat pelukan, lewat doa, lewat cerita.

25 Juni 2024, Selamat ulang tahun, Ma.
Terima kasih sudah jadi rumah yang hangat untuk aku pulang.
Terima kasih sudah percaya aku bisa, bahkan waktu aku sendiri nggak yakin.
Terima kasih karena tetap mencintaiku dalam diam, tanpa syarat, dalam do’a, bahkan di ujung napasmu.

26 Juni, aku nggak akan pernah lupakan.
Hari saat langit seolah diam.
Tapi aku tahu, pelan-pelan Mama menyatu dengan semesta. Dan do’amu kini menyatu dalam langkah hidupku.

25 Juni, aku rayakan hidupmu.
26 Juni, aku kenang kepergianmu.
Dan setiap hari setelahnya... aku peluk rinduku, dalam diam.

Aku rindu.
Selalu.


Kiky Ranhanindita

26 Juni 2025