Mengejar seribu bayang kepalsuan


Tepiskan asaku bahwa memang saat inilah waktu untuk kita berpisah..
Tiada arti lagi canda tawa yang kita torehkan dahulu, karena memang saat inilah aku yakini bahwa memang tak ada yang abadi dengan rasa ini..
Aku lebih memilih untuk melepaskan semua mimpiku denganmu..
Karena seberapapun ibanya aku terhadap kasihmu, aku tetap akan ragu..

Semua memang telah berakhir tepat saat cahaya matamu tak lagi berada dalam relung jiwaku, namun terhenti oleh rasa lelahku diatas egoku..
Mungkin aku kan menanti hingga saatnya nanti tak akan ada keraguan yang ada..
Tapi aku takut, aku terlalu takut jika rasamu berubah menjadi rasa benci dan aku akan menyesal...

Aku masih menunggumu disini...
Ditepian aliran darahku dan diujung lelap mimpiku...
Berharap nanti akan datang satu kejaiban dan menuntunmu kembali dalam pelukanku...
Semoga saja....

Sempat ku umpatkan beribu sumpah terhadap kehidupan hitammu...
Namun tak ada alasan untukku membiarkan dirimu bangga atas itu..
Aku tak bisa membiarkanmu meskipun hanya untuk sejenak melepaskan semua asa disana...
Sangat tak adil sekali bila tawamu malah berbalik memojokkanku...

Aku marah atas hidupku sendiri..!!
Aku marah atas semua hal yang pernah aku lakukan terhadapamu, apapun manisnya itu...!!!
Aku marah atas kenangan indah yang sempat menghiasi sudut kelam kekosongan tawaku...!!!
Aku marah atas semua janji yang kau torehkan namun sangat melukaiku...!!
aku marah...

aku tak akan menyadarkan apa yang tersirat dalam lubuk jiwa..
namun yang ada hanyalah tangisan polos kecil yang mengamati apa yang ada...

nafasku terlahir bukan sebagai jawaban yang nyata atas indahnya nilai dari hakiki kita..
namun lebih menyiratkan semua rasa yang ada ini terlanjur menjadi nafas yang tak mungkin lagi ada harganya..

semua memang telah berakhir kini,...
sangat telah berakhir...
dan aku enggan untuk mengulangi semua resah dan kesalahan bodoh ini...

- DR Hanindita Rahady (Ranchid Kiki Unyil) -


Tidak ada komentar: