Ketika nurani tak lagi dapat mengartikan tentang sebongkah rasa yang tertinggal..
Seketika itu juga nafas-nafas kekelinuan yang tersengal perlahan datang dan meluluhlantakkan jiwa yang tersesat..
Sangat halus aku mengeram....
Namun terasa sangat kasar ketika aku tersenyum riang
Terkadang semua ambisiku mengalir deras seperti saat aku menghujam kerasnya kehidupan..
Namun seiring itu pula aku menjadi bukan seperti aku yang terlalu memaksa..
Aku mengartikan seluruh rasa ini hanya tertuju pada satu bayang..
Namun ternyata kesalahan lah yang membiusku jauh terlalu dalam..
Suatu ketika sorot mata itu kembali datang ke dalam peraduanku..
Sangat lemah namun tetap dapat menyemangatkan..
Kugapai jiwa asa nya dengan penuh keikhlasan, namun aku terlalu rapuh untuk melawan kepalsuan yang terlanjur ku lontarkan..
Maaf, ternyata nuraniku tak lagi dapat mencerna apa yang tersirat dari batin keangkuhan..
Dan aku memilih untuk membiarkanmu dalam keapaadaan..
- DR Hanindita Rahady (Ranchid Kiki Unyil) -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar