tentang aku dan apa yang kumiliki



Aku masih duduk tersudut dalam ruang ini dengan beribu pertanyaan yang selalu menyelimuti apa yang mereka rasakan
Disini aku melihat keegoisan
Disini aku melihat begitu banyaknya keangkuhan
Disini aku melihat berbagai awal rona kehancuran

Terkadang kita lupa akan suatu masa yang mengiba atas rasa
Dan terkadang apa yang kita perhatikan sama perihnya dengan apa yang kita rasakan
Keinginan untuk menyeimbangkan semua amarah serta kesabaran semakin meruah ketika tak ada yang mengerti dengan arti kebersamaan
Semua nampak lusuh menjalar dalam tabir keraguan

Aku disini menahan segala himpitnya penyesakan ini
Aku disini terkapar dalam raut wajah yang memang tak mengerti apa yang kuamati
Dan aku disini mencoba menjadi sang pendewasa meskipun masih saja tak perduli

Persetan dengan apa yang aku rasakan
Persetan dengan apa yang akan aku lakukan
Aku hanya ingin berdiam disini
Tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya aku miliki

Malam ini sangat menyedihkan sekali
Karena seberapaun inginnya aku menangis selama ini, akhirnya aku teteskan kembali airmata ini
Bukan lantaran aku kembali ingat bagaimana cara untuk menyikronkan perasaan dan hati
Namun karena saat ini aku memang begitu tersakiti

Aku sakit mengetahui kebenaran ini yang seakan merobek sendi-sendi di pergelangan tanganku
Aku sakit mendengar semua jeritan ini yang seakan mendengungkan keras suara-suara hina di telingaku
Aku sakit melihat keributan konyol ini yang seakan menyilaukan pandangan atas harmonisnya sebuah keluargaku
Dan aku sakit merasakan kekelinuan ini yang menyayat seluruh hati dan jiwa ini

Akhirnya aku menangis
Dan akhirnya aku kembali menjadi pribadi labil yang sadar bahwa perasaanku kini semakin terkikis

- DR Hanindita Rahady (Ranchid Kiki Unyil) -

antara aku dan nurani



Ketika nurani tak lagi dapat mengartikan tentang sebongkah rasa yang tertinggal..
Seketika itu juga nafas-nafas kekelinuan yang tersengal perlahan datang dan meluluhlantakkan jiwa yang tersesat..
Sangat halus aku mengeram....
Namun terasa sangat kasar ketika aku tersenyum riang

Terkadang semua ambisiku mengalir deras seperti saat aku menghujam kerasnya kehidupan..
Namun seiring itu pula aku menjadi bukan seperti aku yang terlalu memaksa..
Aku mengartikan seluruh rasa ini hanya tertuju pada satu bayang..
Namun ternyata kesalahan lah yang membiusku jauh terlalu dalam..

Suatu ketika sorot mata itu kembali datang ke dalam peraduanku..
Sangat lemah namun tetap dapat menyemangatkan..
Kugapai jiwa asa nya dengan penuh keikhlasan, namun aku terlalu rapuh untuk melawan kepalsuan yang terlanjur ku lontarkan..

Maaf, ternyata nuraniku tak lagi dapat mencerna apa yang tersirat dari batin keangkuhan..
Dan aku memilih untuk membiarkanmu dalam keapaadaan..



- DR Hanindita Rahady (Ranchid Kiki Unyil) -



Mengejar seribu bayang kepalsuan


Tepiskan asaku bahwa memang saat inilah waktu untuk kita berpisah..
Tiada arti lagi canda tawa yang kita torehkan dahulu, karena memang saat inilah aku yakini bahwa memang tak ada yang abadi dengan rasa ini..
Aku lebih memilih untuk melepaskan semua mimpiku denganmu..
Karena seberapapun ibanya aku terhadap kasihmu, aku tetap akan ragu..

Semua memang telah berakhir tepat saat cahaya matamu tak lagi berada dalam relung jiwaku, namun terhenti oleh rasa lelahku diatas egoku..
Mungkin aku kan menanti hingga saatnya nanti tak akan ada keraguan yang ada..
Tapi aku takut, aku terlalu takut jika rasamu berubah menjadi rasa benci dan aku akan menyesal...

Aku masih menunggumu disini...
Ditepian aliran darahku dan diujung lelap mimpiku...
Berharap nanti akan datang satu kejaiban dan menuntunmu kembali dalam pelukanku...
Semoga saja....

Sempat ku umpatkan beribu sumpah terhadap kehidupan hitammu...
Namun tak ada alasan untukku membiarkan dirimu bangga atas itu..
Aku tak bisa membiarkanmu meskipun hanya untuk sejenak melepaskan semua asa disana...
Sangat tak adil sekali bila tawamu malah berbalik memojokkanku...

Aku marah atas hidupku sendiri..!!
Aku marah atas semua hal yang pernah aku lakukan terhadapamu, apapun manisnya itu...!!!
Aku marah atas kenangan indah yang sempat menghiasi sudut kelam kekosongan tawaku...!!!
Aku marah atas semua janji yang kau torehkan namun sangat melukaiku...!!
aku marah...

aku tak akan menyadarkan apa yang tersirat dalam lubuk jiwa..
namun yang ada hanyalah tangisan polos kecil yang mengamati apa yang ada...

nafasku terlahir bukan sebagai jawaban yang nyata atas indahnya nilai dari hakiki kita..
namun lebih menyiratkan semua rasa yang ada ini terlanjur menjadi nafas yang tak mungkin lagi ada harganya..

semua memang telah berakhir kini,...
sangat telah berakhir...
dan aku enggan untuk mengulangi semua resah dan kesalahan bodoh ini...

- DR Hanindita Rahady (Ranchid Kiki Unyil) -