Ketika rasa tak lagi dapat mencerna apa yang tertahan oleh asa, seketika itu juga jiwa-jiwa rapuh yang tersirat mulai samara membentuk kepribadian yang berbeda…
Sangat tak bertepi jika muara kejujuran kembali terpenuhi oleh sebuah pencarian jati diri..
Aku memang mengandalkan semua hal yang mengiba atas rasa perih ini, karma yang aku sadari hidup buka sebagaimana mestinya kita hidup, namun hidup itu bagaimana kita memilih cara untuk mati…
Kekosongan yang terlungkup oleh kehampaan, sepi yang tak beraroma keceriaan, dan rasa sakit yang mulai enggan untuk tertahankan..
Aku tahu bagaimana cara untuk berpura-pura, namun aku tak mampu melukiskan apa arti dari kata kesejatiaan yang hampa…
Sangat lemah namun tak lagi dapat menerka apa yang bergejolak dalam jiwa…
Bayangan itu tak lagi memanduku lagi, tetapi malah menghantui setiap nafas dan hentakan langkahku…
Tak lagi dapat mengerti apa yang tergambarkan dari sorot mata yang mendalam, tak lagi dapat menerka keseluruhan angan yang terbang bebas dalam khayalan, dan tak lagi dapat mengais sekeping mimpi disela-sela bayang…
Yeaahh…
Mungkin ini memang salah satu kenyataan ironis yang sembari memperalat kewarasanku…
Namun di setiap langkah, aku masih tetap menjanjikan apa yang tersirat dalam harap dan kecemasanku..
Berusaha menjadi terang dalam gelap yang memporakporandakan kesadaran atas asa, meskipun mungkin semua yang telah ada tak mampiu lagi menjadi penyemangat yang membabi buta…
Yang pasti, disini masih ada secuil harapan yang akan tetap ada menemani setiap langkahku..
Disini masih ada sejentik hati untuk kuumbar pada seluruh jiwa yang tertanam dalam ladang keangkuhanku..
Dan disini masih ada aku, yang akan tetap menjadi aku sampai semua ini tak lagi membebaniku…
Hingga aku mati dan tak lagi merasa sendiri di dunia ini…
- DR Hanindita Rahady (Ranchid Kiki Unyil) -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar