aku mencoba untuk menikmati semua deru ini, meskipun tubuhku yang kecil ini tak mampu lagi untuk melawan gejolak sang Illahi.
aku terdiam dalam sudut jalan yang memojokkanku, sesaat aku arahkan pandanganku jauh menuju dikeramaian kota, dan selayaknya gadis kecil, aku mencoba mencari tempat sembunyi untuk sekedar menghindar dari cobaan sang kuasa.
aku terdiam dan berbicara sendiri pada Tuhanku, "Tuhan maafkan aku, aku tak sanggup menerima cobaanmu siang ini!! tolong permudahkan aku Tuhan".
seraya pula ku usap tetesan keringat yang mengalir indah disamping pelipis mataku, sungguh kuakui aku tak yakin sanggup untuk tetap berdiri disini..
akhirnya kereta itu datang, kuikat rambutku ini dengan tali peninggalan seorang sahabat dan berharap ini mampu menahan hasrat keringat.
aahh.. disini hanya ada tiga orang ternyata..
dalam kesempitan itu aku hanya ingin menyenderkan kepalaku sejenak diantara kaca-kaca jendela yang mulai retak, yaahh mungkin keretakan itu adalah ulah dari sang pemberontak, pikirku.
lalu tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang daritadi duduk tenang disampingku itu mulai menepuk bahuku dan berkata lirih, "neng, terimakasih ya.. eneng sudah mau duduk di sebelah mbah".
"memang ada apa mbah?", jawabku sambil mulai membenahi posisi dudukku.
"disitu kan panas neng, mbah pikir td si neng mau nyuruh mbah untuk geser kesudut" jawabnya sambil sesekali ia membenahi kacamatanya yang hampir melorot kebawah.
aku berpikir, apakah Tuhan sebegitu inginnya membuatku tak berdaya sehingga aku diharuskan menerima sengatan matahari ini di kereta? atau apakah Tuhan ingin menyadarkan aku akan betapa Maha Penyayang-Nya ia kepadaku sehingga aku tidak akan mengumpat tentang cobaan yang Ia berikan?
aarrgghhh......
aku terdiam untuk waktu beberapa lama, kupandangi urat-urat nadi nenek itu yang sudah mulai samar nampak. dalam ketidakberdayaan di alam pikiranku, aku kembali mencoba untuk tersenyum kepadanya.
yaa... senyumku tulus dan apa adanya..
lalu kita berdua terdiam.........
akhirnya sampai juga ketempat dimana aku kan berhenti.
ditempat ini, aku berpikir bahwa aku akan terbebas dari segala cobaan..
namun ternyata malah semakin ingin enyah dari peradaban..
- DR Hanindita Rahady (Ranchid Kiki Unyil) -
- DR Hanindita Rahady (Ranchid Kiki Unyil) -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar