aku mulai bangkit dari semua sandaranku hari ini..
aku ingin hal baru, hal yang tak biasa..
aku ingin merasakan kesendirian...
kulangkahkan kakiku ini menapaki setiap jalanan depan rumahku berada. terlihat jelas bagaimana kisah ini akan sangat mengesankan. mulai kuniatkan keinginan untuk merasakan semua ini diatas kesendirianku, yaaahh aku ingin sendiri saat ini...
aku berhenti pada persimpangan jalan yang ramai ini, tak ada sedikitpun hasrat untuk menoleh utukku kembali saja di peraduan dan tak ada keinginan sedikitpun untukku berhenti dari awal yang aku pun tak tahu bagaimana akhir dibelakang.
ditempat itu aku sudah cukup mulai merasakan kesendirian, namun kesendirian ini belum memuaskanku!
aku mulai menaiki kereta ini yang datang, kutatap satu persatu para penumpang yang dengan paras acuhnya tak memperdulikan..yaahh tampang yang tak bersahabat.
sepanjang jalan, aku hanya menatap jauh keluar kereta tanpa kuperdulikan betapa bising dan sesaknya disekitar sini.
anehnya, ketika kutatap sendu muka seorang anak kecil yang dengan polosnya meminta seupah rupiah, aku teringat akan berapa rupiahkah yang aku bawa didalam dompetku? ironis sekali ketika kita semua tak pernah berpikir apa arti dari memberi.. dan lebih ironis lagi ketika kita hanya merasakan hal ini namun tak ada sikap yang tulus dari hati..
lalu aku tersadar dalam lamunan dan menjumpai diriku sendiri duduk dengan santainya tanpa memperdulikan anak ini.
"dia juga saudaraku", batinku dalam hati. kusodorkan lembaran rupiah untuknya tanpa memikirkan bagaimana nanti aku kembali di peraduan. lalu senyuman yang sangat polos itupun mulai dikembangkan olehnya, ahh ternyata harga untuk senyuman yang menyenangkan itu tidak terlampau mahal, hanya saja yang dibutuhkan itu ketulusan. ternyata dengan kesendirianku ini, aku bisa lebih memaknai hidup, terima kasih Tuhan.
lalu dua orang pengamen jalanan naek ke kereta ini, sungguh semua aliran darahku rasanya ingin melonjak dan tanganku mulai ingin menutupi pendengaran. sungguh sangat mengesalkan sekali.. namun dari situ aku belajar untuk menghargai, menghargai kebersamaan mereka dalam keapa adaan, menghargai usaha mereka yang lebih memilih untuk bernyanyi dengan kunci gitar dan suara yang sumbang, dan mungkin lebih menghargai mereka karna aku disini duduk dalam kesendirian..
dan setelah kedua pengamen itu turun, kereta ini kembali menjadi sunyi.. sepi.. semakin terasa kalau sendiri itu memang bukan hal yang mudah.
tak terasa perjalanan yang lama ini tiba diujung kota, kuberanikan diri turun dari tempatku ini, kupandangi satu persatu tempat yang akan menjadi tempat istirahatku sementara..
diujung kota ini, aku merasa asing dan seperti layaknya orang yang tertinggal..
aku telusuri jalan raya ini, berharap ada sesuatu yang menarikku dari tempat dimana aku berhenti..
tidak jauh dari tempat dimana aku berdiri, ada lelaki tua yang mendorong gerobak dengan sangat pelannya. wajahnya terlihat sangat lelah dan dengan sorot mata yang sangat memelas. kupercepat langkahku mendekatinya entah karna apa tiba-tiba ku bantu ikut mendorong gerobak itu.
"tak usah neng, bapak bisa sendiri.." jawabnya lirih sambil tersenyum kepadaku.
dan betapa bodohnya aku ketika aku hanya balik tersenyum kepadanya sambil melepaskan peganganku.
bapak ini mengajariku sebuah kemandirian dalam kesendirian. mungkin terdengar sangat egois ketika kita mengetahui bahwa manusia tidak memerlukan pertolongan sama sekali. namun ini bukan berbicara seberapa pertolongan kita yang diabaikan tetapi mengenai sebuah harga diri dan nilai diri dari kemandirian.
aku mulai mengajaknya berbicara tanpa aku perdulikan siapa dan darimana asalnya, karna yang aku tahu aku dan dia sama-sama sendiri disini.
cukup jauh juga aku dan beliau berjalan menyusuri jalan raya yang ramai ini, sampai pada akhirnya kita berdua dipisahkan pada sebuah gang kecil yang sangat kumuh disana.
"hati-hati neng, Gusti Allah pasti njagain neng", katanya sambil menepuk bahuku.
yaahh.. akhirnya aku sendiri lagi dikota ini...
Aku masih terus berjalan, hingga akhirnya ku dengar suara sirine tanda waktunya untuk berbuka puasa..
Kuhentikan langkahku tepat didepan Rumah Sakit kota ini. Kubasahkan tenggorokan ini dan sesekali meluruskan kedua kakiku.. Linu dikakiku ini sangat terasa hingga membuat tanganku mengepal.
Sampai pada akhirnya aku melihat mobil ambulans yang melewatiku disini..
Banyak sekali anak jalanan didaerah sini, yang hampir sebagian dari mereka itu adalah saudara mereka sendiri.. Sungguh realita yang pahit..
Akal sehatku kembali samar menjamahi relung jiwaku, mungkin perasaan dan egoku untuk meninggalkan semua yang kumiliki ini yang telah merajai.. Aku sekarang sendiri disini..
Ditempat yang jauh dari kehidupan glamorku, ditengah-tengah para kerumunan orang yang tak ada satu diantara mereka sudi melihatku, dan dikehidupan yang memang sangat baru untukku..
Aku tahu sekarang bagaimana rasanya sendiri.. Bagaimana rasanya menjadi orang asing..
Seperti hidup diantara siang dan malam, dan aku adalah angin yang dapat berhembus kemana saja dan kapan saja.. Terasa sangat hampa, namun kadang sangat diidamkan..
Kesendirianku belum usai hanya sampai disini.. Karna aku memang tak akan berhenti.. Aku hanya ingin sejenak bersandar dari semua keangkuhan yang kurasakan..
Perjalanan ini masih sangat panjang... Dan aku tahu ini akan menjadi kesendirianku yang tak bertuan...
* to be continue... *
- DR Hanindita Rahady (Ranchid Kiki Unyil) -
3 komentar:
merinding. itulah kesan pertama ketika aku membaca tulisan2mu...
sebuah tulisan dengan penjiwaan yang sangat kentara. sebuah tulisan dengan melibatkan perasaan dan emosi.
tulisanmu bahkan bisa membuatku tertawa dalam tangisku.
@kak patlu:
mungkin karena ranchid lupa bagaimana cara untuk menangis dan tertawa, jadi ranchid memaknai semua cuma dengan rasa...
tersenyumlah...
selagi jiwa dalam raga kita ini masih sanggup untuk menahan segala kekelinuan yang menyayat sukma dalam keabadian yang cukup nyata...
makasih yaa kakak...
edyan tenan...
kata2mu ki emang siph banget chid,,,
aku ga nyongko ikh,,,
eh,,kuwe digoleki bapak pengamen yang biasa lewat menyanyikan lagu2 jaman dulu...
rak tahu ngetok nang kucingan po saiki?
Posting Komentar