tentang aku dan perasaanku


Diantara semua bayang yang tetap setia menemani setiap getirku, dan diantara rasa pecundang dan munafiknya kekosonganku, aku masih mampu tetap membinasakan semua rasa penyesalanku.

Aku tetap bernyanyi dalam gelap malam yang menelantarkanku, aku tetap tersenyum puas dalam kepalsuan yang memporakporandakanku, dan aku tetap akan seperti aku hingga nanti ku temukan separuh jiwaku.

Yeahh mungkin akan terlihat sangat menjijikkan bila aku temui diriku sendiri masih saja dalam ketidakberdayaan atas sebongkah rasa, tapi tidak untuk saat ini, karna aku saja masih tak mengerti akan sebuah asa.

Aku mengenalnya sebagai salah satu sosok yang membangkitkanku ketika aku merasa sendiri menunggu mati, aku mengenalnya juga sebagai bagian dari jiwa-jiwa yang tak lelah mencari arti dari kata sejati, dan aku juga mengenalnya sebagai pemuda yang beranjak dewasa dan sama halnya hanya ada kepalsuan dibalik sikap polosnya.

Banyak dari kita yang mungkin akan mempergunjingkan tentang nilai sebuah keluarga yang tak selamanya bersama, namun tidak bagi dia. Bagiku dia teramat sangat tak percaya akan hakiki nya suatu keutuhan, hingga akhirnya tidak untuk saat itu....

Senja beranjak dari peraduannya kepada malam yang membahana, seakan saat itu akan  datangnya sebuah keibaan dalam diri yang akan terungkap. Itu saat pertama kali kita bertemu, sangat sederhana namun sangat berkesan.

Aku mungkin bukanlah mereka yang dengan sengaja menaruh perasaan dengan gampangnya untuk jiwa-jiwa yang tak bertuan. Tapi aku hanya gadis kecil yang akan terus bersenandung ketika perasaan indah itu datang, dan aku tetap akan bersenandung hingga saatnya nanti dirinya akan mengerti apa yang kusenandungkan lalu kita seirama bergejolak dari himpitnya dunia ini menuju ke peraduan yang hanya ada aku dan dia.
Yaa itulah aku. Sangat lambat namun tak ingin juga teringgal oleh masalalu yang mendahului kedewasaanku.

Sering kudengar opini-opini mereka tentang suatu massa akan datangnya hari penentuan, ketika jiwa mereka dipertemukan hanya karena pandangan pertama, ataupun hanya karena sikap kegengsian mereka.
Tapi mereka itu bukan berarti sama dengan aku.
Aku berbeda..
Dan akan tetap berbeda sampai getaran-getaran itu menyatu menjadi sebuah kedamaian dan indah pada waktunya.

- DR Hanindita Rahady (Ranchid Kiki Unyil) -

2 komentar:

Patlu itu Fahmi mengatakan...

weleh2 dunia itu sempit ternyata...
bahkan di dunia blog pun bertemu dengan dirimu si tante kecil ranchid...

nice post tante...

lama tak berjumpa denganmu...

semoga dirimu baik2 saja...

M Wildan ZL mengatakan...

i have something for you...see my newest post in my blog...you can find it easily by reading it's title